Trustjak Trik Pikat Customer Dengan Emotional Branding

Trustjak: Trik Pikat Customer dengan Emotional Branding

Emosi dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan dan mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Itulah mengapa, strategi emotional branding diyakini efektif untuk membuat audiens merasa lebih relate dengan brand hingga akhirnya memutuskan untuk membeli produknya.

Ada banyak jenis strategi marketing yang efektif untuk menarik perhatian audiens. Salah satu yang paling sering digunakan oleh marketer adalah emotional branding. Alasan mengapa strategi ini populer di tengah kalangan marketer yaitu karena kemampuannya untuk memanfaatkan emosi audiens agar membeli produk atau barang yang ditawarkan.

Baca Juga: Erika Ricardo: Personal Branding Kunci Penghasilan Tiga Digit

Karenanya, ulasan berikut ini akan menjelaskan mengapa strategi emotional branding sangat efektif untuk menggaet lebih banyak pelanggan yang loyal, lewat pengalaman Johan Alvin Khosuma atau yang biasa dipanggil dengan Trustjak, seorang Branding Consultant, sekaligus Founder JCK Enterprise.

Pentingnya Penerapan Emotional Branding

Emotional Branding
Sumber: Unsplash

Menurut Trustjak, emotional branding dapat didefinisikan sebagai upaya pemicuan emosi yang dikeluarkan oleh seorang marketer terhadap audiensnya. Tentunya, aktivitas pemasaran Teman Ninja dapat dirancang sedemikian rupa agar bisa menggerakan perasaan konsumen.

Contoh yang paling sederhana adalah ketika mempromosikan sebuah film horor, tentunya produser dan pembuat film akan menciptakan trailer yang sesuai dengan keinginan para penontonnya, yakni merasa ketakutan.

Pembuatan trailer menjadi contoh emotional branding, yang bertujuan untuk menanamkan rasa takut demi mengantisipasi perilisan film penuhnya. Emotional branding biasanya memanfaatkan emosi kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, dan kemarahan.

Berikut adalah alasan secara lengkap mengapa emotional branding merupakan strategi yang harus kamu terapkan.

  1. Brand atau produk akan jadi lebih mudah diingat
  2. Penyebaran konten yang lebih luas dan sering
  3. Berpengaruh terhadap decision-making konsumen
  4. Menginspirasi audiens
  5. Meningkatkan loyalitas

Jika dilakukan dengan tepat, emotional branding berpotensi untuk menciptakan hubungan baik antara pemilik bisnis dan konsumen. Hal ini akan berpengaruh kepada brand loyalty, customer loyalty, dan juga brand authority dari sisi pemilik bisnis.

Cara Menerapkan Emotional Branding

Emotional Branding
Sumber: Unsplash

Seperti upaya pemasaran lainnya, Teman Ninja perlu memastikan bahwa dana dan sumber daya yang diberikan untuk memicu perasaan dan emosi konsumen dapat membuahkan hasil yang maksimal. Karenanya, berikut adalah beberapa cara agar upaya emotional branding agar budget yang kamu keluarkan tidak sia-sia.

Menciptakan Narasi atau Storyline yang Menarik

Memanfaatkan sebuah cerita, atau sebuah storyline dalam iklan atau upaya pemasaran akan memicu sebuah emosi dari konsumen. Konsumen akan menganggap brand kamu sebagai brand yang peka dan peduli terhadap isu yang kamu tunjukkan pada konten, sehingga terjadinya penciptaan brand image yang positif.

Contohnya, kamu bisa menceritakan tentang kedekatan keluarga, perjuangan hidup seseorang yang bukan siapa-siapa, kebahagiaan ketika menggunakan produkmu, dan lain sebagainya.

Memanfaatkan Social Proof

Dalam dunia bisnis, menunjukkan value usaha atau produk melalui testimoni memang diakui dapat meningkatkan nilai dari produk yang ditawarkan. Maka dari itu, pastikan untuk memanfaatkan para pelanggan Teman Ninja, dan dapatkan testimoni positif dan ulasan dari mereka untuk mendatangkan calon pelanggan potensial lainnya.

Mengenal Tipe Konsumen atau Pelanggan

Sebagai marketer dan pemilik bisnis, Teman Ninja harus memiliki pemahaman yang dalam terhadap tipe pelanggan. Selain jenis kelamin, lokasi geografis, kamu juga perlu mengetahui dari sisi behaviour atau perilaku dan kebiasaan sehari-hari mereka.

Tipe pelanggan pun terdiri dari 3, yaitu tightwards atau mereka yang lebih memilih untuk menabung dibanding membeli, spendthrifts atau mereka yang lebih memilih untuk membelanjakan uangnya dibanding menabung, dan average spenders yang berarti terletak di antara tightwads dan spendthrifts itu sendiri.

Pemanfaatan Warna yang Tepat

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh para ahli psikologi, mereka menemukan bahwa adanya korelasi yang tinggi antara warna dan kondisi psikologis seseorang. Contoh populer yang dapat ditemukan adalah pada restoran fast food.

Brand fast food seperti McDonald dan KFC menggunakan warna merah pada seluruh bangunan dan produk, seperti tempat duduk, menu, layar kasir, hingga packaging. Hal ini karena riset mengungkapkan bahwa warna merah dapat memicu rasa lapar pada konsumen, menjadikan warna merah aset yang berharga bagi kedua restoran tersebut.

Memiliki Judul atau Header yang Catchy

Apabila kamu memiliki akun sosial media maupun website, maka kamu perlu memastikan bahwa tulisan yang ada di sana dapat menarik perhatian konsumen. Maka dari itu, penting bagi kamu untuk memiliki kemampuan menulis kata-kata yang clickbait, atau yang dapat memicu ketertarikan konsumen untuk meng-klik konten yang disajikan.

Baca Juga: Sonial Basil: Jurus Ampuh Menarik Ratusan Customer Per Hari Pakai Cerita

Tolak Ukur Kesuksesan Emotional Branding

Emotional Branding
Sumber: Unsplash

Seteleh memahami pengertian, alasan, hingga cara penerapan emotional branding, Trustjak juga mengimbau agar Teman Ninja mengetahui tolak ukur kesuksesan atau strategi sebuah emotional branding yang sudah maupun yang akan dijalani nantinya.

Salah satu Key Performance Indicator yang bisa menjadi tolak ukur emotional branding adalah Emotional ROI, di mana ini berarti kamu mengukur seberapa besar efektif dana dan sumber daya yang dituangkan pada kontenmu dalam memicu sebuah perasaan dari target pasar.

Mengukur keadaan emosi dan perasaan konsumen akan membantu kamu dalam memberikan pembelajaran tentang produkmu yang lebih mendalam terkait sisi psikologis dan kepercayaan mereka.

Berikut adalah beberapa metrik yang bisa menjadi patokan untuk penilaian agar kamu bisa memiliki emotional ROI yang tinggi.

  1. Attention; Apakah produk atau brand milikmu dikenali oleh audiens?
  2. Engagement; Apakah upaya pemasaran menciptakan engagement atau adanya two-way communication dengan audiens?
  3. Sentiment; Apakah audiens menunjukkan perasaan yang positif, negatif, atau bahkan tidak menunjukkan perasaan yang ditargetkan?

Baca Juga: Ligwina Hananto: Tips Alokasi Budget untuk Scale Up Bisnis

Nah, itulah penjelasan mengenai cara atau trik, hingga contoh memikat customer dengan emotional branding ala Johan Alvin Khosuma atau Trustjak, seorang Branding Consultant, sekaligus Founder JCK Enterprise.

Jika Teman Ninja memperhatikan dan mempraktikkan emotional branding untuk memikat pelanggan potensial seperti yang sudah dijelaskan di atas, maka keuntungan dari bisnis atau usaha tersebut pun pasti akan terus meningkat hingga membentuk keunggulan produk atau jasa yang ditawarkan.

Endors
Sumber: Dok. Ninja Xpress

Untuk mendukung penerapan emotional branding pada bisnis atau usahamu, saatnya kamu memanfaatkan Ninja Xpress yang punya program Creative Business Solution untuk membantumu mengembangkan promosi seperti endorsement, untuk mengiklankan produk unggulanmu dengan influencer ternama, sehingga bisnismu semakin untung.

Tertarik bergabung? Yuk, daftar dan cari info lengkap mengenai Creative Business Solution di sini!

Featured image by rawpixel from Freepik