Fast Fashion Vs Slow Sustainable Fashion

7 Brand lokal Inspiratif yang mengusung konsep sustainable

Sustainable merupakan konsep dengan mengutamakan kepedulian terhadap lingkungan dan sosial. Selain bisa memberikan nilai lebih terhadap brand kamu, konsep ini juga dapat menjadi pembeda dan keunikan sendiri. Yuk intip beberapa brand lokal yang menerapkan konsep ini, bisa jadi inspirasimu!

Berdasarkan sejarahnya, fashion adalah sebuah produk yang mahal. Efeknya fashion hanya dapat dibeli oleh kalangan tertentu saja. Lalu pada tahun 1980 hadirlah zaman revolusi industri, pada zaman itu muncul berbagai teknologi, salah satunya teknologi mesin jahit untuk memproduksi produk fast fashion.

Namun, proses fast fashion dibuat dengan lebih cepat, dengan bahan baku yang berkualitas rendah, serta dijual dengan harga yang murah. Sehingga pada zaman itu fashion dapat dibeli oleh semua orang yang berasal dari berbagai kalangan. Tetapi efek buruknya produk-produk tersebut tidak bertahan lama (mudah rusak).

Baca juga: 10 Brand Inspiratif dari Bandung

Hingga kini, fast fashion muncul dengan masalah bagi lingkungan. Pemerintah dan masyarakat berlomba untuk saling berkontribusi terhadap limbah busana. Salah satu yang saat ini gencar dilakukan adalah brand lokal yang mengusung konsep sustainable namun tidak mengurangi kesan estetik terhadap rancangannya.

Kira – kira apa saja brand tersebut? Yuk kita simak!

1. Sejauh Mata Memandang

Sejauh Mata Memandang adalah brand lokal yang berkomitmen untuk menanam, melindungi, dan merestorasi pepohonan di seluruh Indonesia untuk membantu menyelamatkan lingkungan. Mereka menggunakan produk berbahan katun, linen, dan tencel untuk menjadi pilihan material pengganti yang berasal dari proses daur ulang.

Limbah tekstil pra-produksi diproses menjadi benang di Gresik, Jawa Timur menggunakan teknologi ramah lingkungan. Kemudian ditenun menjadi kain di daerah Pandaan, Jawa Timur dengan melibatkan komunitas masyarakat. 

Pendiri dan Direktur Kreatif Sejauh Mata Memandang Chitra Subiyakto mengatakan bahwa ia ingin menciptakan fashion yang ramah lingkungan karena faktanya industri pakaian jadi penyumbang polusi kedua terbesar di bumi. 

Sejauh Mata Memandang, menggunakan tekstil limbah sisa konveksi yang telah didaur ulang. Sejauh Mata Memandang adalah pesan cinta pada Indonesia dan bumi dengan mencoba lebih bertanggung jawab pada lingkungan. 

2. Sare/Studio

Untitled Design 1
Sumber: Sare Studio

Diperkenalkan sejak tahun 2015, Sare Studio selalu mengeluarkan koleksi yang keren dan tentu saja memiliki bahan yang ramah lingkungan. Selain dapat menemani aktivitas sehari-hari dirumah maupun saat WFH, produk yang dihasilkan oleh Sare Studio juga bisa digunakan untuk “Hanging out”.

Bahan serat yang dipakai untuk produk mereka berasal dari kayu yang sudah tersertifikasi. Selain itu, Sare Studio juga telah mendapat sertifikasi EU Ecolable yang mengambil material mentah dari proses produksi, distribusi hingga proses pembuangan. 

“Tahun ini kami menghadirkan dua terobosan baru di mana SARE/ studio kini menghadirkan motif eksklusif yang dirancang sendiri, serta memilih untuk menggunakan material yang ramah lingkungan yaitu merek serat alami LENZING™ ECOVERO™. Melalui terobosan ini kami berharap SARE/ studio dapat memberikan makna baru bahwa piyama atau pakaian rumah dapat mendukung aktivitas Work-at-Home dan bukan hanya memberikan kenyamanan fisik, tetapi juga kenyamanan hati dan pikiran karena menggunakan pakaian dari material yang ramah lingkungan,” jelas Putri Andamdewi, Co-Founder & Creative Director SARE/ studio.

3. Sukkha Citta

Sebagai usaha sosial yang bermisi memberdayakan ibu-ibu di desa sambil merawat alam, SukkhaCitta hadir dengan misi membangun dunia yang lebih inklusif dengan merubah bagaimana pakaian kita ditanam, dibuat, dan dipakai.

Didirikan sejak tahun 2016, brand lokal sustainable fashion Sukkha Citta menggunakan proses pewarnaan alami pertama di Indonesia. Material pakaian yang digunakan juga berasal dari pemberdayaan bahan-bahan dari komunitas pertanian lokal yang bebas dari bahan kimia. 

Founder and CEO of SukkhaCitta, Denica Riadini-Flesch mengatakan, berawal dari tahun 2016, pihaknya telah memberikan dampak pada lebih dari 1.482 ibu di seluruh Indonesia. Dengan akses pasar yang adil, SukkhaCitta telah meningkatkan penghasilan dari pengrajin dan petani kecil binaan sebesar 60%. SukkhaCitta juga menganggap bahwa jika pakaian dibuat secara tradisional dan alami seperti menggunakan kapas yang berasal dari pohonnya, maka bisa kembali lagi ke tanah dan menjadi makanan untuk kehidupan selanjutnya.

4. Osem

Untitled Design 2
Sumber: Instagram Osem

Didirikan oleh lima orang sahabat yang berlatar jurusan Arsitek dan Arsitek Interior di Universitas Indonesia, brand Osem yang dimulai bulanAgustus 2014 adalah brand asal Jakarta yang berkonsep seni melipat, mengikat dan mewarnai kain atau yang sering disebut sebagai jumputan. 

Sejak awal, para pendirinya hanya ingin bermain dengan warna biru yang dihasilkan oleh pewarna alami dari tumbuhan Indigofera Tinctoria. Tanaman Indigo itu pula yang membuatr mereka yakin untuk mendirika label yang di setiap prosesnya lebih memiliki kesadara dan ramah lingkungan juga sosial. 

Menurut pendirinya, selain hanya menggunakan warna alam, mereka juga hanya menggunakan kain yang berasal dari serat alam, seperti katun, linen, rami, dan serat alam lainnya. Selain itu mereka mendesain setiap model pakaian dengan prinsip less/zero-waste, yang jika pun ada sisa bahan maka akan mereka jadikan produk yang lebih kecil atau bekerja sama dengan label lain yang dapat meng-upcycle sisa kain mereka. Selain itu, cara mereka meminimalkan limbah adalah dengan tidak menggunakan resleting dan kancing berbahan plastik, sehingga harapannya di akhir pemakaian produk mereka, jika dibuang, produk mereka dapat terdekompos secara alami oleh alam.

5. Pijak Bumi

Untitled Design 3
Sumber: Instagram Pijak Bumi

Nama Pijakbumi dapat diartikan sebagai kontak langsung antara manusia dengan bumi tanpa menggunakan alas kaki. Mereka ingin semua orang yang menggunakan Pijakbumi dapat merasakan kontak langsung dengan alam. Ini juga merupakan cara alami untuk menetralisir keadaan emosional manusia.

Pijakbumi secara khusus berkomitmen untuk menciptakan alas kaki dengan desain yang baik. Ini telah menjadi komitmen mereka untuk memproduksi produk yang sama berharganya sambil bekerja keras untuk memberikan nilai berkelanjutan kepada masyarakat. Pijakbumi memberdayakan masyarakat untuk mengonsumsi lebih sedikit produk energi serta melestarikan sumber daya alam.

Pemilik mengatakan bahwa di balik setiap kisah sukses Pijakbumi dan atau merek lain, akan selalu ada tim pendukung yang besar dan kolaborasi yang solid. Oleh karena itu, mereka juga bermitra dengan ilustrator, seniman, inisiatif lingkungan, dan bahkan komunitas untuk memperluas dampak positif #ForBetterEarth.

Kini seiring berjalannya waktu dan di tengah pandemi Covid-19, banyak orang yang memperhatikan isu sustainability. Berbeda dengan saat awal Pijak Bumi hadir di pasar sepatu lokal, masyarakat memilih Pijakbumi karena memiliki desain yang unik kini masyarakat membeli Pijakbumi karena konsep sustainability yang ditawarkan. 

6. Bell Society

Image 7
Sumber: Website Bell Society

Bell Society adalah perusahaan biomaterial yang memproduksi bahan ramah lingkungan yang dibuat dengan mengonversi sumber organik. dengan menggunakan kekuatan Bakteri.

Bahan itu diproduksi melalui proses penemuan dan inovasi. Mereka percaya bahwa hal yang terbaik adalah memanfaatkan apa yang telah diberikan alam kepada manusia, daripada membuat pengganti sintetis untuk kebutuhan manusia.

Menurut Arka, salah satu pionir Bell Society “Produk yang kami tawarkan merupakan produk hasil inovasi baru dalam industri material berbasis riset dan berpotensi untuk diterapkan sebagai sustainable material pengganti bahan kulit sintetis. Tak hanya itu, tim kami juga membawa produk purwarupa (prototype) saat melakukan presentasi,” Selain memaparkan business plan, mereka juga langsung memperlihatkan hasil Misel yang sudah diolah menjadi dompet dan card holder.

Tidak berhenti di situ, Bell Society kini juga mengolah limbah kulit kopi untuk dijadikan vegan leather yang mereka namakan Misel. Bell Society bekerja sama dengan para petani kopi di beberapa tempat untuk mengumpulkan limbah kulit kopi yang mereka butuhkan.

7. Mylea by Mycotech Lab

Image 8
Sumber: Website Mylea

Memiliki gagasan untuk menyediakan material yang berkinerja tinggi dan berkelanjutan melalui bioteknologi untuk pasar global dengan memberdayakan masyarakat lokal, Mylea by Mycotech Lab menjadi terkenal ketika membuat jam tangan pertama di dunia yang terbuat dari jamur.  

Dengan motto “We the sustainable, the genuine; We the future”, Mycotech Lab ingin membuat konsumen sadar terhadap material alternatif ini sehingga bisa berpartisipasi dalam sustainable fashion. Selama bertahun-tahun, para pendiri yang berasal dari ITB ini telah berkolaborasi bersama berbagai pihak untuk menyajikan “mylea™️” sebagai sustainable material.

”Dilatarbelakangi oleh keilmuan arsitektur yang didapat sejak kuliah. Lalu mengetahui bahwa material bangunan kebanyakan menggali dari tanah yang bisa merusak alam, sedangkan, di lain hal, ada berjuta ton limbah pertanian yang tidak dimanfaatkan,” kata Robbi selaku penggagas Mycotech saat ditanya motif dan ketertarikan kelompoknya saat memulai bisnis ramah lingkungan ini.

Start-up yang didirikan empat tahun silam ini telah banyak menorehkan prestasi. Mereka sempat menjadi Juara 2 Wirausaha Muda Mandiri tahun 2015, Juara 2 Shell Live Wire World Innovation Awards 2016, Juara 3 GIST Demo Day GIST Initiative, dan Juara 2 Wienerberger CBME Innovation Day 2018, dan yang terakhir produk Myle ditampilkan pada ajang Paris Fashion Week 2022.

Baca Juga: Bagaimana Membantu Bisnismu Bertahan setelah Pandemi

Teman Ninja, itulah beberapa brand yang sangat inspiratif yang mengusung konsep sustainable yang mendukung perhatian terhadap lingkungan kita. Beberapa contoh brand diatas bisa dielaborasikan dengan ide yang Teman Ninja yang ingin memiliki brand ataupun jika ingin membuat brand dengan konsep tersebut ataupun lainnya. Semoga dapat menginspirasi Teman Ninja ya.

Featured image from Freepik