7 Tips Tingkatkan Penjualan Menggunakan Media Sosial

Ninja Van

7 Tips Tingkatkan Penjualan Menggunakan Media Sosial

Aktivitas belanja online meningkat drastis sampai 400% selama pandemi, ini kesempatan kamu untuk dapat meningkatkan penjualan!

Teman Ninja, 400% aktivitas belanja online meningkat sejak Maret 2020 loh (Analytic Data Advertising). Pastinya ini salah satu dampak dari pandemi Covid-19 yang mulai masuk ke Indonesia di bulan Maret 2020, bahkan salah satu survey dari Sea Insight menyebutkan 54% responden semakin adaptif menggunakan media sosial untuk meningkatkan penjualan.

Nah dari data di atas, pandemi memang memaksa banyak hal untuk segera shifting atau berpindah ke digital, termasuk dalam berbisnis. Mungkin kamu sudah memanfaatkan media sosial sebagai media promosi, tapi apakah sudah berdampak terhadap omset kamu? Terutama di masa pandemi seperti saat ini.

Kali ini, Ninja bakal kasih tahu gimana caranya agar media sosial kamu bisa meningkatkan penjualan produk kamu dan lebih efektif buat mengejar cuan!!!!

1. Pilih Media Sosial yang Tepat

Source: Unsplash

Setiap orang punya preferensi, termasuk ketika memilih platform media sosial yang digunakan. Nah, disinilah kamu harus mengetahui ‘kolam’ yang mereka pilih, apakah target market kamu banyak yang bermain di kolam Facebook, LinkedIn, Instagram atau justru mereka asik bermain di kolam TikTok.

Terus gimana cara mengetahuinya?

Kamu harus menentukan target market atau sasaran pasar kamu secara spesifik terlebih dahulu. Bisa dengan membuat Buyer Persona secara simpel.

Gampang kok, kamu cukup membuat gambaran target market secara spesifik dengan menuliskan nama, usia, pendidikan, kondisi keuangan (penghasilan), isu apa yang menarik bagi dia, nilai apa yang dia cari ketika membeli sebuah produk, dan setelahnya kamu akan tahu target market yang kamu incar ini aktif di media sosial apa.

2. Pastikan Konten Menarik!

Setelah kamu tahu media sosial apa yang target market kamu gunakan, tugas selanjutnya adalah membuat konten yang menarik.

Source: Pexels

Nah, poin penting di sini adalah konten yang kamu buat sebisa mungkin relate dengan isu yang mereka minati sehingga konten kamu akan dianggap penting oleh mereka dan secara tidak langsung menarik mereka untuk membeli produk dari brand kamu.

Tapi perlu kamu ingat loh, konten yang dibuat sesuai dengan taste mereka dan memenuhi standar keren versi target audiens atau target market, bukan hanya keren versi pemilik brand. Misalnya, target audiens kamu mayoritas suka dengan K-Pop, maka kamu bisa membuat konten seputar K-Pop. Bisa juga “riding the wave” isu-isu terkini, sehingga konten yang kamu buat akan up to date.

3. Apresiasi Konten dari Followers Kamu

Salah satu strategi marketing yang autentik adalah User Generated Content yang bisa kamu terapkan untuk meningkatkan penjualan di media sosial. Studi di tahun 2017, menunjukan bahwa UGC memliki pengaruh hingga 97% kepada pembeli online berusia 18 – 30 tahun terhadap keputusan pembelian.

Source: accurate.id

Apa itu User Generated Content?

Simpelnya, UGC adalah konten yang dibuat oleh audiens kamu yang biasanya menceritakan pengalaman atau opini mereka terhadap brand kamu dan kemudian mereka posting di kanal media sosial pribadi. Audiens kamu bisa saja menandai atau menyebut brand kamu di postingan mereka atau menggunakan hashtag yang mengarah ke brand kamu.

Jadi, kamu harus lebih peka terhadap respon audiens di media sosial dan selalu apresiasi feedback yang mereka berikan dengan membalas hingga me-repost konten yang mereka buat, tentunya sesudah izin kepada yang bersangkutan. Lewat UGC inilah engagement akan meningkat dan secara bertahap akan melahirkan pelanggan yang loyal dan tentunya berdampak terhadap penjualan brand kamu.

4. Bekerjasama dengan Influencer

Source: Kompasiana

Langkah selanjutnya, kamu bisa bekerja sama untuk meningkatkan penjualan produk kamu dengan seorang influencer atau KOL (Key Opinion Leader) yang akan mempromosikan brand kamu kepada pengikutnya di media sosial.

Tapi tenang, kamu tidak harus bekerja sama dengan seorang Makro Influencer (followers >100k)  kok, karena budget untuk seseorang yang sudah terkenal atau memiliki followers banyak biasanya cukup besar. Jadi kamu bisa mulai bekerja sama dengan seorang Nano Influencer (followers <10k) atau Mikro Influencer (followers 10k – 100k) yang secara budget lebih terjangkau dan biasanya angka enggagement-nya justru lebih tinggi.

Pertimbangan utama dalam memilih seorang influencer adalah apakah value yang dimiliki influencer tersebut sejalan dengan value yang ingin diberikan oleh brand dari produk kamu. Oleh karena itu, kamu harus secara serius melakukan riset terhadap calon influencer yang kamu pilih.

Nah, saat ini ada banyak platform untuk mencari influencer kok, kamu bisa cek ke Spradz, Iconreel, Lemon dan platform-platform lainnya.

5. Bercerita!

Satu poin penting untuk Teman Ninja, SEMUA ORANG SUKA CERITA.

Source: Pexels

Nah, lewat media sosial inilah kamu bisa bercerita tentang produk kamu secara detail. Mulai dari proses pembuatan, cerita dibalik produk, proses pengemasan, dan seterusnya.

Jadi, caption yang kamu tulis di media sosial bukan melulu jualan secara langsung (hard selling) kepada audiens tapi ada cerita yang kamu sampaikan dan akan lebih menarik audiens untuk membeli produk kamu.

Salah satu brand yang sukses dengan storytelling adalah Klinik Kopi. Brand ini bercerita banyak hal menarik yang menjadikan followers-nya selalu menunggu konten dari Klinik Kopi.

6. Gunakan CTA yang Memikat

Source: Kaskus

Sebagai pemilik brand, kamu juga harus mempelajari teknik copywriting agar konten-konten yang kamu sampaikan lewat media sosial lebih menjual dan membuat audiens kamu segera membeli produk yang kamu jual.

Disinilah peran dari Call To Action (CTA) yang memikat dan sulit ditolak oleh audiens. Call To Action yang kamu buat harus jelas dan tidak membingungkan audiens, salah satu fungsinya untuk memperjelas bagaimana caranya jika konsumen ingin membeli produk kamu atau jika sedang berlangsung sebuah promo.

“DISKON 20% ALL ITEM, Hanya Berlaku Hari Ini!!! Order Sekarang Juga, Cukup WhatsApp  ke 08xxxxxx.” 

7. Mulai Membuat Budget Untuk Ads

Source: Pexels

Langkah terakhir atau bisa dibilang shortcut agar produk kamu bisa dijangkau oleh audiens yang lebih banyak adalah dengan beriklan. Disinilah kamu bisa mulai membuat budget khusus marketing yang didalamnya termasuk budget untuk beriklan.

Ada cukup banyak pertimbangan sebelum menentukan budget iklan media sosial kamu, salah satunya kamu harus secara jelas menentukan objektif atau tujuan kamu dalam memasang iklan, apakah untuk awareness atau conversion atau objektif lainnya. Lalu siapa target yang kamu incar dan berapa lama kamu akan memasang iklan tersebut.

Dari situlah kamu akan tahu budget yang diperlukan untuk memasang iklan di media sosial dan tentunya bisa disesuaikan dengan kemampuan budget yang kamu sediakan.

Nah, dari 7 cara yang Ninja bagikan di atas. Ada satu hal penting yang perlu Teman Ninja ingat, apa itu? Jika cara-cara di atas kamu jalankan, selain bertujuan untuk meningkatkan penjualan produk ternyata kamu juga sekaligus melakukan branding produk loh. Menarik bukan?

Jadi, mulai sekarang Teman Ninja memang sudah seharusnya memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk menjual produk secara efektif dan efisien.

Featured image by Pixabay from Pexels

Daftar isi

    Videos

    Shares